Awal musim hujan per bulan dan wilayah
Dari total 699 Zona Musim (ZOM), awal musim hujan tidak terjadi bersamaan. Musim hujan diawali dari Sumatera bagian utara, lalu bergerak bertahap ke wilayah lain.
- Agustus 2026: 2 ZOM (0,25% luas daratan).
- September 2026: 32 ZOM (5,53%).
- Oktober 2026: 63 ZOM (15,09%).
- November 2026: 185 ZOM (24,66%): sebagian Sumatera, sebagian Jawa, sebagian Kalimantan, sebagian Bali, sebagian NTB, sebagian kecil NTT, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, Papua Barat bagian utara, dan sebagian Papua Selatan.
- Desember 2026: 266 ZOM (17,31%): sebagian Lampung, sebagian besar Jawa, sebagian Kalimantan Selatan, sebagian besar Bali, sebagian besar NTB, sebagian besar NTT, sebagian besar Sulawesi, sebagian Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Selatan bagian selatan.
- Januari 2027: 4 ZOM (0,31%); Maret 2027: 12 ZOM (1,2%); Mei 2027: 2 ZOM (0,02%).
- 3 ZOM (0,67%) di Sumatera bagian utara diprediksi tidak mengalami musim kemarau pada 2026, dan 1 ZOM (0,11%) di Sulawesi diprediksi tidak mengalami musim hujan.
Dibanding normal 1991–2020, awal musim hujan MUNDUR di 529 ZOM (61,08%), antara lain Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, sebagian besar Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTB, Kalimantan, sebagian besar Sulawesi, dan sebagian besar Pulau Papua.
Puncak musim hujan
- Desember 2026 (155 ZOM; 36,94%): sebagian besar Sumatera, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi Utara, pesisir selatan Gorontalo, sebagian kecil Sulawesi Tengah, sebagian besar Sulawesi Barat, sebagian kecil Maluku, dan sebagian Papua.
- Januari 2027 (162 ZOM; 25,68%): antara lain Riau bagian selatan, Bangka Belitung, Sumatera Selatan bagian barat, Lampung bagian utara, sebagian Jawa, Bali bagian tengah, NTB bagian barat, sebagian NTT, sebagian besar Kalimantan Tengah, sebagian Kalimantan Selatan, dan sebagian Sulawesi.
- Februari 2027 (190 ZOM; 16,79%): Lampung bagian tengah, sebagian besar Jawa, sebagian besar Bali, sebagian NTB, sebagian besar NTT, sebagian Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara bagian selatan, sebagian Maluku, dan sebagian besar Pulau Papua.
Dibanding normal, puncak musim hujan MUNDUR di 332 ZOM (50,76%), SAMA di 275 ZOM (39,69%), dan MAJU di 92 ZOM (9,55%).
Sifat dan durasi musim hujan
- NORMAL (85–115% dari rerata): 510 ZOM (69,76%), meliputi sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, NTT, Kalimantan, Sulawesi, dan Pulau Papua.
- ATAS NORMAL atau lebih basah: 147 ZOM (18,55%), antara lain sebagian Sumatera, Jawa Barat bagian tengah, DI Yogyakarta bagian barat, Bali bagian utara, sebagian besar NTB, sebagian NTT, sebagian Kalimantan, dan sebagian Sulawesi. Wilayah ini perlu diwaspadai.
- BAWAH NORMAL atau lebih kering: 42 ZOM (11,69%), antara lain Bengkulu bagian barat, sebagian kecil Jawa, sebagian kecil NTT, Kalimantan bagian utara dan timur, dan Maluku bagian selatan.
- Durasi LEBIH PENDEK dari normal di 482 ZOM (51,90%), dominan di sebagian besar Sumatera, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Barat, sebagian besar Sulawesi, Maluku, dan Pulau Papua. Lebih panjang di 60 ZOM (8,58%), sama di 40 ZOM (5,06%).
- Rentang durasi: Sumatera 7 sampai lebih dari 33 dasarian; Jawa 7–24 dasarian (umumnya 10–21); Bali–NTB–NTT 7–21 dasarian (umumnya 10–15); Kalimantan 19–30 dasarian; Sulawesi 3–33 dasarian; Maluku dan Papua 3–33 dasarian.
Faktor iklim pengendali (ENSO dan IOD)
- El Niño sangat kuat: anomali suhu muka laut Niño3.4 akhir Agustus 2026 +2,83°C dan indeks ENSO JAS +2,63 (rilis 22 Sep 2026). Pemantauan Dasarian I Oktober 2026 mencatat anomali Niño3.4 +3,33 dan indeks ENSO ASO +3,08. El Niño diprediksi bertahan hingga awal 2027.
- IOD positif: indeks IOD Dasarian I Oktober 2026 +0,703 (September +0,72), diprediksi bertahan positif hingga akhir 2026. IOD positif mengurangi curah hujan di Indonesia bagian barat.
- Monsun Asia (angin baratan) diprediksi mulai masuk ke wilayah Indonesia bagian utara pada November 2026.
- Per Dasarian III Oktober 2026, baru 59 ZOM (8,4%) yang sudah masuk musim hujan, yaitu Aceh, Sumatera Utara, sebagian Sumatera Barat, Riau bagian utara, sebagian Kepulauan Riau, Bengkulu bagian utara, sebagian kecil Bogor, dan sebagian Kalimantan Barat.
Dampak dan rekomendasi BMKG
Karhutla & kualitas udara (masa transisi)
- Mundurnya musim hujan membuat risiko karhutla dan kabut asap bertahan lebih lama, terutama September–Oktober 2026.
- Manfaatkan prediksi hotspot untuk pemadaman dini, siapkan shelter udara bersih untuk kelompok rentan, dan gunakan masker partikulat di wilayah terdampak asap.
Banjir & longsor (awal dan puncak musim hujan)
- Optimalkan drainase, jangan buang sampah ke saluran air, perbanyak biopori dan sumur resapan.
- Petakan lokasi rawan banjir dan longsor, periksa lereng secara berkala, siapkan jalur evakuasi dan tim siaga sejak tingkat RT/RW.
- Pantau peringatan dini BMKG/BPBD dan tinggi muka air sungai; lakukan evakuasi dini bila muncul tanda pergerakan tanah.
Pertanian & perkebunan
- Waspadai gagal tanam akibat hujan semu (false start) dan dry spell panjang; semai padi tadah hujan sesuai prediksi awal musim hujan setempat.
- Gunakan varietas adaptif berumur pendek, ikuti Kalender Tanam Terpadu (Katam), kendalikan OPT, dan daftarkan lahan ke Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP).
Sumber daya air & energi
- Hemat air, perbesar tampungan air hujan skala rumah tangga, identifikasi cekungan air tanah dan lokasi sumur bor.
- Atur inflow, elevasi waduk, dan pelepasan air secara proporsional untuk PLTA serta keselamatan wilayah hilir saat puncak hujan.
Kesehatan
- Siapkan fasilitas kesehatan untuk lonjakan DBD dan penyakit akibat genangan; tingkatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan larvasidasi.
- Pantau prediksi kecocokan iklim DBD di dbd.bmkg.go.id.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan pemangku kepentingan memakai prediksi ini sebagai acuan peringatan dini untuk merancang aksi dini, serta berkonsultasi dengan kantor BMKG terdekat untuk informasi yang lebih rinci per wilayah.
Sumber resmi
Diperbarui dari rilis BMKG 22 Sep 2026, buku prediksi 2 Okt 2026, dan analisis Dasarian III Oktober 2026 (2026-11-63)